Yang terkejam dari masa transisi adalah ketika kita merasa
rendah diri, merasa tidak pantas terhadap apapun. Seolah takut melihat dunia
nyata.
Bagaimana aku bisa bergerak jika aku masih takut untuk
terjatuh.
Rasanya aku ingin menjauh dari siapapun, entah untuk apa.
Pernah ku baca sebuah kata-kata bijak yang bunyinya kira-kira seperti ini, ”lakukanlah
sesuatu itu karena itu terasa benar, bukan karena itu terasa masuk akal”. Lalu
aku teringat akan sebuah kata-kata bijak lainnya, “berpura-puralah itu sedang terjadi
sampai itu benar-benar terjadi”. Aku coba terapkan 2 kata-kata bijak itu ke
dalam kehidupanku. Tapi masa transisi memang kejam. Aku dibawa bolak-balik pada
2 keadaan yang berbeda berulang-ulang kali, hingga aku tak tahu mana yang
benar.
Masa transisi memang kejam, apalagi jika dijalani sendirian.
Aku seperti menemukan rumah baru bagiku, tempat aku merasa
nyaman dan aman.
Disana aku bisa tertawa, tersenyum, menangis sesukaku.
Tetapi selalu ada perasaan takut setiap aku melihatnya
Aku takut jika rumah itu hanya ilusiku
Meski selalu terlihat nyata setiap kali aku melihatnya
Feels that it belongs to me
Bahkan aku mulai takut kehilangan yang bahkan belum menjadi
milikku
Aku seperti menemukan rumah
Setiap kali aku menatap mata itu
Terkadang merasa tak pantas akan semua hal. Tak tau mana
yang pantas untuk ku dapatkan atau sekedar ku miliki. Aku terbentur pada rasa
yang salah, meski aku tahu rasa tak akan pernah salah. Rasa adalah anugerah.
Mungkinkah dia adalah pelangi yang selama ini aku tunggu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar