Ini hanya lorong gelap. Di ujung sana nantinya akan ku temukan
ujung dari lorong ini dan aku akan melihat kembali cahaya dan warna-warni yang
dulunya pernah menghiasi hari-hari suramku. Mungkin semesta terlalu indah untuk
ku benci; seperti senja, pelangi, dan hujan. Meski dibalik keindahan alam yang
ku cintai itu terdapat beberapa hal yang ingin aku lupakan, toh pada akhirnya
aku tetap tak membenci keindahannya. Seperti senja, dengan langit orange dan
atmosfernya yang sejuk. Pelangi, yang mewarnai dan mengindahkan tampilan langit
biru itu. Dan hujan, setiap rintik merdunya yang jatuh membasahi tanah. Karena bagiku,
ada nyanyian dalam setiap rintik hujan yang jatuh dan hanya bisa terdengar oleh
mereka yang rindu. Ya! Sungguh lekat bagiku kaitan antara hujan dan rindu. Dengan
ajaibnya pikiranku dapat flashback ke beberapa masa silam dalam hidupku dan
lebih ajaib lagi aku masih bisa mengingatnya dengan sangat mendetail. Seakan semua
dimensi yang sedang bermain dalam pikiranku masih lekat dengan kehidupanku. Rasanya
seperti… masih kemarin.
Ada banyak hal-hal ajaib yang terjadi dalam kehidupanku setelah masa yang ku sebut dengan nama “masa api” datang menyerangku dengan membabi buta dan seperti membombardir segala aspek terkuat yang pernah ku miliki. Ya. Aku telah melewati masa api dengan lancar (aku tak mengatakan bahwa ini mudah) dan cukup membuatku menjadi pribadi yang lebih baik di masa ini. Aku terkuatkan! Aku bisa melewati rasa sakit itu. Bukan rasa sakit secara lahiriah, tetapi sakit batiniah. Pada akhirnya aku kembali menemui hari ini, yang dulunya justru menjadi hari ‘kita’. Ingin menangis tak bisa, ingin tersenyum tak bisa, bahkan aku tak bisa merasakan hatiku lagi. Sepertinya sakit dan bahagiaku tak memiliki bahasa yang pas untuk dimengerti beberapa orang.
Mungkin ada beberapa hal yang tak dapat dimengerti oleh orang lain meskipun aku telah mendeskripsikannya secara rinci. Disaat tersulit, tak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan dengan keadaan. Ya, aku sudah mencoba bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun. Tentunya dengan rasa optimis dan yakin kepada kata hati kecil. Mungkin sesuatu yang aneh untuk didengar dan dinalarkan oleh orang lain. Tapi toh,sejauh ini keyakinanku sendirilah yang justru menguatkanku. Hanya kepada Yang Satu, aku selalu menggantungkan harapan. Karena bergantung pada-Nya akan menghasilkan hasil yang baik. Dia tahu apa yang terbaik. Meskipun aku tak pernah bisa terlepas sedikit saja dari ingatan-ingatan itu, tapi aku mencoba untuk tetap menikmatinya. Toh, disaat sendiri tak ada yang dapat menyenangkan atau menghibur diri selain diri kita sendiri. Disini, aku masih berdiri di sudut yang sama. Masih memikirkan hal yang sama kala hujan turun. Dan masih mendoakan hal yang sama di setiap obrolanku bersama Tuhan. Aku kuat. Paling tidak, aku terkuatkan! J