Kehilangan itu sangat menyakitkan. Apalagi jika ia meninggalkan kita dan ia tak bisa berjanji untuk kembali lagi. Dan begitulah, keberadaannya sangat dirindukan sesaat setelah ia pergi meninggalkan kita. Sebut saja Dea. Gadis yang pada waktu itu sangat ceria di masa-masa pertama SMA-nya. Dea adalah gadis yang sejatinya sangat mencintai keluarga kecilnya. Mama, Papa, dan adik perempuannya. Diantara mereka, Papa adalah sosok yang sangat dekat dengannya. Papa Dea tidak hanya berperan sebagai ayah, ia juga berperan sebagai teman yang baik untuk Dea. Tetapi, Dea terbiasa hidup kesepian karena Papa dan Mama Dea sibuk bekerja.
Tahun 2008 yang lalu adalah masa sukses yang pernah dicapai oleh keluarga Dea. Papa Dea bekerja di suatu perusahaan yang membuat taraf kehidupan keluarga Dea naik. Tetapi ternyata kesuksesan itu hanya sementara, karena kesuksesan Papa Dea membuat iri rekan kerjanya. Sejak saat itu, Papa Dea memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan kemudian hanya Mama Dea saja yang bekerja. Waktu itu adalah masa sulit yang pernah dialami keluarganya. Papa Dea bekerja tidak menetap dan Mama Dea tetap melanjukan pekerjaannya.
Saat itu Dea masih duduk di kelas 1 SMA. Tetapi Dea tidak bersekolah di kota yang sama dengan tempat tinggal orangtuanya. Dea bersekolah di luar provinsi dan sekolah itu adalah tempat dimana Papa-nya bersekolah dulu. Dan disana Dea tinggal bersama Om-nya, yang tak lain adalah kakak kandung dari Papa Dea. Waktu itu bulan puasa pertama di masa SMA-nya. Dea bersekolah 2 minggu sebelum akhirnya ia berlibur lebaran.
Hari sabtu itu adalah hari terakhir ia bersekolah, dan ia telah memberi kabar kepada keluarganya di rumah bahwa besok ia akan pulang. Hari itu kakak sepupu Dea mengadakan acara berbuka bersama teman-temannya, karena itu ia tidak bisa pulang ke rumahnya dan akhirnya memutuskan akan pulang keesokan harinya. Saat acara berbuka itu selesai, Papa Dea mengirimkan sms kepada Dea. Saat Dea membaca sms dari Papa-nya, Dea sedang berada di dekat adik sepupunya yang saat itu masih duduk dibangku kelas 4 SD. Isi sms Papa Dea :
Kak, jangan keluar malam ini. Karena kabar-kabarnya Soeharto akan belajar mengendarai mobil.
Dea tertawa membaca sms itu, dan menganggap itu hanya bercandaan Papa-nya saja. Dea tidak membalas sms dari Papa-nya. Tidak lama setelah Dea membaca sms itu, Dea tertabrak motor saat ia baru saja keluar dari pekarangan rumah Om-nya itu.
Dea kemudian dilarian ke rumah sakit. Papa Dea yang telah mendengar kabar itu dari Om-nya kemudian segera berkemas bersama Mama, adik, dan salah satu teman dekat Papa Dea untuk pergi melihatku kerumah sakit. Karena berbeda provinsi, perjalanan mereka menghabiskan sekitar 12 jam untuk sampai ke tempat Dea.
Saat mereka sudah sampai di rumah sakit, Papa Dea jarang masuk ke dalam ruangan untuk melihat Dea. Dea sedih, karena ia mengira Papa-nya tidak peduli dengan keadaannya yang waktu itu cukup parah. Kemudian diketahui, ternyata alasan Papa Dea tidak terlalu sering melihat anaknya ke dalam ruangan adalah karena ia tak cukup kuat melihat keadaan anaknya.
Mungkin disanalah letak keterikatan batin antara seorang anak dan seorang ayah, saat Papa Dea mengirimkan sms yang terkesan hanya sms yang tidak terlalu penting. Hati Papa Dea sebagai seorang ayah tergerak untuk mengingatkan anaknya.
Dea dirawat seminggu di rumah sakit. Setelah libur lebaran usai, Dea kembali menjalani aktivitasnya di sekolah. Tentu saja ia di temani Papa-nya yang saat itu tidak bekerja. Sejak saat itu, Papa Dea tidak terlalu yakin untuk melepas Dea sendiri di kota dimana ia bersekolah itu. Setiap 2 minggu sekali Papa Dea selalu bolak balik dari rumah ke kota tempat Dea bersekolah. Tetapi Papa Dea tidak tinggal 1 rumah dengan Dea yang tinggal di rumah Om-nya itu. Papa Dea tinggal di rumah nenek Dea yang kira-kira menghabiskan sejam perjalanan dari tempat Dea tinggal. Setiap malam Papa Dea selalu menghubunginya, hanya untuk sekedr bercanda dan mengingatkan anaknya.
Selang seminggu berlalu, Papa Dea tak lagi menghubungi Dea seperti biasanya. Tiba-tiba Dea merindukan Papa-nya dan kemudian Dea menelpon Papa-nya.
Halo anak gadis papa
Halo Pa. Papa lagi ngapain?
Gak ada. Lagi duduk di depan rumah aja.
Papa, kakak kesana ya?
Emangnya kakak berani? Jauh loh!
Berani dong! Ya Pa?
Ya udah, hati-hati ya. Nanti kalo dah nyampe bell papa lagi. oke?
Oke, Pa...
Telepon terputus. Entah apa yang memberanikan Dea untuk pergi ke tempat Papanya yang sebelumnya ia tak pernah pergi kesana sendirian. Saat Dea sampai di rumah neneknya, Dea tidak menemukan Papa-nya. Kemudian ia menanyakan keberadaan Papa-nya kepada neneknya. Tidak lama setelah itu, Papa Dea datang dari belakang Dea. Ia tampak sangat bahagia karena untuk pertama kalinya ia dikunjungi oleh anaknya.
Sore itu, Papa Dea mengajak Dea makan di sebuah warung gubuk yang tampak sangat buruk. Dea tidak menyangka, bahwa itu adalah makan bersama Papa-nya untuk yang terakhir kalinya.
Malam pun datang, Dea harus pulang dan Papa-nya yang mengantarkan Dea pulang. Tetapi malam itu hujan. Kemudian Papa Dea mengajak ia berteduh di sebuah warung tempat dimana ia sering duduk bersama warga sekitar.
Dea sangat bahagia malam itu. Karena Papa-nya sangat membanggakan Dea di depan teman-temannya. Dan ia sangat bangga, bahwa anak gadisnya sekarang telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Papa Dea membanggakannya sambil merangkul Dea. Dea benar-benar sangat dibuat bahagia oleh Papa-nya malam itu.
Saat hujan sedikit reda, Dea dan Papa-nya melanjutkan perjalanan pulang. Waktu itu, Dea hanya memiliki satu helm. Kemudian Papa Dea menyuruh Dea untuk memakainya agar Dea tidak kedinginan. Papa Dea yang waktu itu mengenakan jaket jeans dan tanpa helm itu benar-benar sangat menjaga Dea agar Dea tidak kedinginan. Dea merasa kasihan dengan Papa-nya, karena ia pikir Papa-nya pasti akan sangat kedinginan mengendarai motor hujan-hujan dan tanpa helm pula.
Sejam kemudian Dea sampai di daerah dekat rumahnya. Tetapi mereka tidak langsung pulang. Mereka pergi membeli sedikit cemilan yang enak untuk dimakan saat udara dingin. Papa Dea yang saat itu kehabisan uang menyuruh Dea untuk membayar makanan itu. Hati Dea semakin sedih.
Setelah sampai di rumah, Dea memberikan handuk kepada Papa-nya untuk mengeringkan badannya. Setelah Dea mengganti baju, Dea keluar dari kamarnya. Ia duduk di sofa, dan mendapati Papa-nya sedang menatap kosong ke depan TV yang menyala. Dea kemudian bertanya kepada Papa-nya.
Mikirin apa Pa?
Kok susah kali lah ya hidup kita kak?
Sabar aja Pa. Kita pasti bisa ngelewatinnya kok. Roda pasti berputar.
Kemudian Papa Dea terdiam, dan memencet-mencet remote TV secara tak beraturan. Dea mengeluarkan bantal dan selimut untuk Papa-nya, dan kemudian Dea masuk ke kamar untuk tidur.
Keesokan paginya, Dea pergi ke sekolah dengan diantar oleh Papa-nya. Saat pulang dari sekolah, Dea diantar oleh pacarnya. Papa Dea sedang berdiri di depan pintu rumah saat Dea baru saja sampai diantarkan oleh pacarnya. Itulah pertama kalinya Papa Dea melihat Pacar Dea, meskipun saat itu Papa Dea belum mengetahui bahwa yang saat itu dilihatnya adalah pacar anaknya.
Siang itu sebelum Papa Dea pulang ke rumah neneknya, Dea pergi membeli celana basket bersama Papanya yang tak jauh dari rumahnya. Setelah mereka kembali, ternyata Om di rumah kedatangan tamu, yang tak lain adalah teman Papa Dea juga. Kemudian Papa Dea pulang bersama teman-temannya. Entah kenapa Dea merasa sedih melihat punggung mobil itu pergi membawa Papa-nya. Dan itu adalah hari terakhir Dea menghabiskan hari bersama Papa-nya.
Seminggu setelah hari itu, Dea tidak pernah lagi berkomunikasi apalagi bertemu Papa-nya. Hari Minggu malam, entah kenapa Dea sangat bersemangat menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Padahal sebelumnya Dea tidak pernah menyiapkan perlengkapan sekolahnya di malam hari sebelum ia akan tidur. Saat itu sudah hampir jam 2 dini hari saat handphone Dea berdering. Ternyata itu telepon dari abang Dea yang saat itu berada di rumah nenek Dea. Dengan setengah sadar Dea mengangkat telepon itu. Kemudian terdengar suara cemas dan sedikit bising.
Halo, Dek. Bilang sama Om, Papa sakit nih. Cepat kesini ya?
Dea yang saat itu setengah tidur setengah bangun hanya diam mendengar telepon yang tak jelas suaranya itu. Kemudian ia mematikan telepon itu. Selang satu menit kemudian, handphone-nya berdering lagi. Dan itu masih penelepon yang sama.
Halo, Dek. Papa sakit nih. Sesak napasnya. Suruh Om ke rumah sakit sekarang ya!
Sakit gimana ni?
Iya, Papa sakit. Panggil Om. Suruh dia cepat datang kesini.
Dea yang kemudian terperanjat dari kasurnya langsung memanggil Om-nya yang saat itu belum tertidur. Kemudian mereka pergi menuju rumah sakit dekat rumah neneknya. Hati Dea sangat takut saat itu. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya ia berdoa agar Papa-nya baik-baik saja. Entah kenapa kemudian dalam doanya Dea menangis., dan saat itu Dea sangat takut.
Tidak lama kemudian, handphone Om Dea berdering. Ternyata itu telepon dari dokter di rumah sakit itu. Dea semakin merasa takut dengan datangnya telepon itu. Dokter mengatakan bahwa Papa Dea sudah tiada. Dea tidak percaya dan tidak menerimanya saat itu. Kemudian semua perkataannya dengan Papa-nya baru-baru ini tiba-tiba saja mengerubungi pikirannya. Dalam perjalannya, gerimis turun, dan Dea menangis sepanjang perjalanan hingga ke rumah sakit itu.
Saat Dea melihat badan Papa-nya terbujur kaku ia tak kuasa menahan tangis. 16 maret 2009 01:30 WIB Papa Dea pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sejak dini hari hingga pagi Dea duduk disamping pembaringan Papa-nya, dan ia tidak sedikitpun berhenti menangis hingga pagi datang.
Papa-nya hanya terlihat seperti sedang tidur. Mukanya bersih. Tetapi Dea tetap sangat sedih saat Dea memegang tangan Papa-nya yang semakin lama semakin dingin.
Sejak saat itu, Dea menjadi pemurung.
Kita hanya akan tau betapa berharganya seseorang setelah ia pergi meninggalkan kita. Entah itu untuk sementara, atau selamanya, kehilangan itu tetap saja menyakitkan. Berbahagialah, bagi kamu yang masih memiliki keluarga yang lengkap O:)
Rabu, 20 Juni 2012
Rindu Itu Semakin Membuunuhku
Ternyata sudah sekian lama aku bergelut dengan sepi ini. aku bahkan tak tau, mana yang nyata dan mana yang mimpi. Hidup sudah seperti mimpi bagiku. Mimpi bahwa aku pernah hidup kemarin.
Mimpi bahwa kemarin masih ada kamu.
Dan lagi, aku merindukanmu. Bahkan aku rindu saat kau memarahiku.
Rasanya tak mudah untuk menganggap semua ini berlalu begitu saja. Aku tak sekedar memikirkan cinta yang pergi, tapi aku memikirkan hidup yang ku rasa sulit tanpa kehadiranmu. Aku tak memiliki pegangan, dan tak pula memiliki sandaran. Ragaku hidup tapi jiwa terasa mati.
Ya ... Semua orang pasti bilang, "dasar... semua orang pada akhirnya akan gila karena cinta yang mereka tanam sendiri". Toh, dunia ini tak seperti negeri dongeng yang selalu happy ending kan?!
Disetiap harinya aku selalu menikmati rindu yang kian lama kian membunuhku. Andai kau dapat merasakan sakitnya tenggorokan yang kemudian menjalar ke dada yang sempit ini, hanya karena aku tak kuat menahan airmata atas rindu yang tak berkesudahan. Bagaimana bisa aku membuat semua ini berlalu begitu saja, sementara rindu selalu datang membabibuta. Mungkin aku bisa, tapi aku tak mau.
Aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa menutup mataku agar aku bisa melihatmu dengan jelas. Bahkan aku masih sangat mengingat rupamu saat terakhir kali kita bertemu. Andai kau tau, aku hanya bisa menyelipkan namamu di dalam setiap percakapanku dengan Tuhan. Ada satu keyakinan yang aku sendiri tak tau itu apa. Hanya saja keyakinan itu semakin lama semakin kuat, tak pernah pudar sedikitpun. Hanya keyakinan itu yang tiba-tiba secara ajaib datang sebagai kekuatan untukku.
Aku yakin, suatu saat nanti Tuhan akan mengganti airmataku, menjawab doa-doaku, dan memberikan hasil dari sabarku.
Suatu saat kau akan mengerti :)
Mimpi bahwa kemarin masih ada kamu.
Dan lagi, aku merindukanmu. Bahkan aku rindu saat kau memarahiku.
Rasanya tak mudah untuk menganggap semua ini berlalu begitu saja. Aku tak sekedar memikirkan cinta yang pergi, tapi aku memikirkan hidup yang ku rasa sulit tanpa kehadiranmu. Aku tak memiliki pegangan, dan tak pula memiliki sandaran. Ragaku hidup tapi jiwa terasa mati.
Ya ... Semua orang pasti bilang, "dasar... semua orang pada akhirnya akan gila karena cinta yang mereka tanam sendiri". Toh, dunia ini tak seperti negeri dongeng yang selalu happy ending kan?!
Disetiap harinya aku selalu menikmati rindu yang kian lama kian membunuhku. Andai kau dapat merasakan sakitnya tenggorokan yang kemudian menjalar ke dada yang sempit ini, hanya karena aku tak kuat menahan airmata atas rindu yang tak berkesudahan. Bagaimana bisa aku membuat semua ini berlalu begitu saja, sementara rindu selalu datang membabibuta. Mungkin aku bisa, tapi aku tak mau.Aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa menutup mataku agar aku bisa melihatmu dengan jelas. Bahkan aku masih sangat mengingat rupamu saat terakhir kali kita bertemu. Andai kau tau, aku hanya bisa menyelipkan namamu di dalam setiap percakapanku dengan Tuhan. Ada satu keyakinan yang aku sendiri tak tau itu apa. Hanya saja keyakinan itu semakin lama semakin kuat, tak pernah pudar sedikitpun. Hanya keyakinan itu yang tiba-tiba secara ajaib datang sebagai kekuatan untukku.
Aku yakin, suatu saat nanti Tuhan akan mengganti airmataku, menjawab doa-doaku, dan memberikan hasil dari sabarku.
Suatu saat kau akan mengerti :)
Sabtu, 16 Juni 2012
si tangan hangatku
untuk lelaki jelek yang akan selalu ku ingat
ini sudah 2 bulan 21 hari sejak kau melangkahkan kakimu untuk pergi dari kehidupanku. apa kabar jelek?
aku tak pernah lagi mendengar nada dering pesan khusus untukmu berbunyi di handphone-ku lagi. aku tak pernah lagi mendengar nada dering panggilanmu memanggilku lewat handphone itu lagi. hey, aku merindukan suaramu. tahukah kau, otakku tak pernah lelah memutar film tentangmu.
jelekku, miliki mata yang indah
terkadang saat ingin memejamkan mata ini, gambar matamu terlihat begitu jelas. tajam dan hitam yang dibingkai dengan alis mata yang tebal. sayang, mata indahmu tak lagi milikku. hey, kelak jagalah ia agar selalu tampak indah ya?
entah sudah berapa ratus jam aku selalu memikirkanmu, dan menceritakan tentangmu kepada Tuhan. aku selalu mencintai dan memelukmu dalam doa. adakah sedikit rindu yang kau sisakan untukku?
aku merasa kehilangan, dan itu kamu. aku benci untuk merasakan rasa kehilangan itu (lagi).
sejak itu, aku seakan lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, bagaimana caranya untuk tertawa lepas. karena bagiku kaulah alasan ku untuk bisa tersenyum. miris ya?!
aku mencintaimu tanpa mengapa, tanpa tetapi dan tanpa tanda tanya lainnya. karena bagiku takkan pernah ada alasan untuk ku mengapa aku begitu menyayangi.
hujan selalu indah, seindah kau
aku tak mengerti, apa maksud Tuhan selalu menurunkan hujan saat aku menangis. aku tak pernah lupa, hujan selalu miliki cerita untuk buat kita tersenyum (dulu). aku tak tau, apakah tangisku begitu menggema langit hingga gemuruh mengundang hujan untuk ikut jatuh membasahi bumi dan membasahi pipiku.
si tangan hangat(ku)
aku bahkan selalu ingat, betapa tanganmu selalu hangat dalam kondisi apapun. kau memiliki tangan yang sangat indah untuk ukuran lelaki. tanganmu selalu hangat, selalu saja terasa hangat. entah untuk keberapa kalinya aku berharap agar aku bisa menggenggam tangan hangatmu (lagi).
dan lagi, otakku kembali memutarkan film tentangmu. pernahkah sedikit saja aku singgah ke dalam pikiranmu? salahkah aku jika diam-diam aku masih selalu membaca sms-sms darimu yang tak pernah ku hapus? perlahan airmata jatuh saat aku membacanya. aku selalu menyegerakan untuk menyudahi membaca sebelum tangis itu meledak (lagi).
mungkin getarannya belum cukup untuk membuatmu menyadarinya, betapa aku selalu merasa sesak saat aku menahan rasa rindu yang akan selalu tertahan ini.
pada akhirnya, rasa rindu yang tertahan ini akan sekarat dan mendekati airmata.
selamat tidur jelek(ku), semoga Tuhan selalu menjagamu dalam naunganNya, setidaknya untukku.
ini sudah 2 bulan 21 hari sejak kau melangkahkan kakimu untuk pergi dari kehidupanku. apa kabar jelek?
aku tak pernah lagi mendengar nada dering pesan khusus untukmu berbunyi di handphone-ku lagi. aku tak pernah lagi mendengar nada dering panggilanmu memanggilku lewat handphone itu lagi. hey, aku merindukan suaramu. tahukah kau, otakku tak pernah lelah memutar film tentangmu.
jelekku, miliki mata yang indah
terkadang saat ingin memejamkan mata ini, gambar matamu terlihat begitu jelas. tajam dan hitam yang dibingkai dengan alis mata yang tebal. sayang, mata indahmu tak lagi milikku. hey, kelak jagalah ia agar selalu tampak indah ya?
entah sudah berapa ratus jam aku selalu memikirkanmu, dan menceritakan tentangmu kepada Tuhan. aku selalu mencintai dan memelukmu dalam doa. adakah sedikit rindu yang kau sisakan untukku?
aku merasa kehilangan, dan itu kamu. aku benci untuk merasakan rasa kehilangan itu (lagi).
sejak itu, aku seakan lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, bagaimana caranya untuk tertawa lepas. karena bagiku kaulah alasan ku untuk bisa tersenyum. miris ya?!
aku mencintaimu tanpa mengapa, tanpa tetapi dan tanpa tanda tanya lainnya. karena bagiku takkan pernah ada alasan untuk ku mengapa aku begitu menyayangi.
hujan selalu indah, seindah kau
aku tak mengerti, apa maksud Tuhan selalu menurunkan hujan saat aku menangis. aku tak pernah lupa, hujan selalu miliki cerita untuk buat kita tersenyum (dulu). aku tak tau, apakah tangisku begitu menggema langit hingga gemuruh mengundang hujan untuk ikut jatuh membasahi bumi dan membasahi pipiku.
si tangan hangat(ku)
aku bahkan selalu ingat, betapa tanganmu selalu hangat dalam kondisi apapun. kau memiliki tangan yang sangat indah untuk ukuran lelaki. tanganmu selalu hangat, selalu saja terasa hangat. entah untuk keberapa kalinya aku berharap agar aku bisa menggenggam tangan hangatmu (lagi).
dan lagi, otakku kembali memutarkan film tentangmu. pernahkah sedikit saja aku singgah ke dalam pikiranmu? salahkah aku jika diam-diam aku masih selalu membaca sms-sms darimu yang tak pernah ku hapus? perlahan airmata jatuh saat aku membacanya. aku selalu menyegerakan untuk menyudahi membaca sebelum tangis itu meledak (lagi).
mungkin getarannya belum cukup untuk membuatmu menyadarinya, betapa aku selalu merasa sesak saat aku menahan rasa rindu yang akan selalu tertahan ini.
pada akhirnya, rasa rindu yang tertahan ini akan sekarat dan mendekati airmata.
selamat tidur jelek(ku), semoga Tuhan selalu menjagamu dalam naunganNya, setidaknya untukku.
berawal di 25 dan berakhir di 26
Langganan:
Postingan (Atom)
